Tampilkan postingan dengan label Batik Banyumasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batik Banyumasan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2016

Batik Motif Simbar Menjangan

Motif Simbaran/Simbar Menjangan terinspirasi dari tumbuhan epifit yg kerap dijumpai di pohon-pohon kelapa, batu-batu atau tebing. Tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan berakar serabut yg hidup melekat pd kayu tertentu, batu dan sebagainya. Berdaun memanjang dan agak bergelombang pada tepinya.

Sesuai dengan ciri khas motif Batik Papringan yang mendapatkan ide dari lingkungan sekitar, maka visualisasi tanaman Simbar Menjangan ini dituangkan dalam batik. Dipadu dengan ikon Lar/sayap, menjadikan motif ini tampak klasik.

Batik motif Godhong Pethetan

Para pembatik Desa Papringan tak pernah habis akan ide motif batik karena mereka melihat segala sesuatu di sekitar mereka sebagai objek yang bisa diterapkan dalam batik. Tidak terkecuali tumbuh-tumbuhan yang ada di halaman rumah atau pekarangan.

Motif Godongan menggambarkan dedaunan atau tanaman hias Puring, atau dalam bahasa Banyumasan disebut "pethetan", berdaun panjang-panjang yang pada masyarakat pedesaan biasanya dijadikan tanaman pagar. Tumbuhan ini mempunyai daun yang warna-warni dalam satu helai daunnya. Biasanya digunakan pula dalam racikan bunga tabur maupun rangkaian bunga pada upacara kematian, juga untuk rangkaian bunga "kembar mayang" pada upacara adat perkawinan.

Rabu, 10 Juni 2015

Jagatan Banyumasan: Kreasi Motif Batik Banyumas

Batik, Batik Banyumas, Batik Banyumasan, Jual Batik,Batik Tulis, Motif batik, Batik klasik, Kain Batik, Grosir Batik, Pesan Batik,

Gambar Batik Jagatan Banyumasan















Batik Banyumasan termasuk dalam jenis batik pedalaman Jawa. Batik pedalaman lebih cenderung menampilkan warna-warna kalem dan dalam, serta sarat dengan simbolisasi makna pada motifnya, selain memuat keindahan gambar motifnya. Motif-motif batik Banyumasan banyak terpengaruh oleh Batik Solo dan Batik Jogja. Meskipun Batik Banyumas mempunyai ciri khas dan aksen dan corak khusus yang membedakannya dengan Batik Solo dan Jogja.

Inovasi motif selalu dilakukan untuk menghadapi persaingan dan menyesuaikan selera pasar. Batik Pringmas sebagai salah satu produsen batik Banyumasan juga selalu melakukan inovasi motif batik baru untuk semakin memperkaya khazanah Batik Banyumas. Salah satnya adalah Motif Jagatan Banyumasan.



Motif “Jagatan Banyumasan” merupakan penggabungan motif-motif batik yang secara turun yemirun berkembang di daerah Kabupaten Banyumas yang termasuk dalam motif batik pedalaman. Dalam motif ini disajikan berbagai macam motif baik yang mendapat pengaruh motif batik Solo dan Yogyakarta maupun motif asli dari Banyumas.

Didesain dengan pola “tambal” atau “buntalan” untuk memisahkan masing-masing motif. Pola tambal menggambarkan gabungan, gotongr oyong, kesatuan dari rakyat yang bhineka (beraneka tagam). Pola tambal juga mengandung dilosofi untuk kesembuhan bagi si pemakai. Dalam hal ini, kesembuhan yang dimaksud adalah agar bangsa ini bias segera melalui masa-masa sulit sehubungan dengan keadaan akhir-akhir ini yang sering terjadi bencana dan gejolak sosial terkait dengan masa pergantian kepemimpinan Negara.

Motif Bunga Matahari yang mengisi ruang antara motif satu dengan yang lain menggambarkan harapan akan masa depan yang cerah nan gemilang atas si pengguna kain, masyarakat Banyumas dan Indonesia pada umumnya. Matahari juga menyimbolkan cahaya penerang yang mengandung harapan bahwa dalam menjalani kehidupan, kita sealu mendapat Cahaya terang petunjuk Illahi.

Warna latar hitam selain member cirri khas batik Banyumasan, juga melambangkan kekuatan, kereguhan iman dan tekad. Warna cokelat yang mewakili warna tanah melambangkan kerakyatan, membumi. Bahwa semua do’a dan harapan yang terkandung dalam motif ini diharapkan akan menyebar keberkahannya kepada tempat dan masyarakat dimana kain ini nanti digunakan. Warna kunimg keemasan melambangkan harapan akan masa emas, kesuksesan dan kemuliaan martabat dan perilaku sip emakai.

Motif-motif yang diangkat dalam desain ini diantaranya adalah: Wahyu Temurun, Babon Angrem, Kawung, Ayam Puger, Pring Sedapur, Jaean, Lar, Sido Mukti, Sido Luhur, Truntum, Serayuan, dan Lumbon.

Motif Wahyu Temurun menggambarkan turunnya wahyu (petunjuk, amanat jabatan, anugerah) dari Illahi yang tentu disertai juga dengan tanggungjawab. Motif Babon Angrem mempunyai makna perlindungan dan perhatian penuh dari seorang ibu dalam merawat dan mendidik anak-anaknya. Motif Kawung bermakna keluhuran, harapan dan asal muasal penciptaan manusia. Motif Ayam Puger menggambarkan keadaan social masyarakat Banyumas dengan rumah tradisional “tikelan”, yang dikitari ayam jago dan kambing sebagai hewan peliharaan yang lazim dimiliki oleh masyarakat.

Motif Pring Sedapur atau serumpun bambu menggambarkan persatuan, dan manfaat yang luas seperti yang dimiliki oleh tanaman bambu. Motif Jaean menggambarkan tanaman rempah yang biasa ditanam di pekarangan rumah masyarakat Jawa. Motif Lar melambangkan kejayaan, keluhuran. Motif Sido Mukti meggambarkan harapan dan cita-cita kesuksesan. Motif Sido Luhur melambangkan keluhuran budi kemuliaan dan derajat yang tinggi. Motif Truntum menggambarkan ketulusan cinta yang terus menerus dan harapan setinggi bintang –bintang di langit.

Motif Serayuan menggambarkan kekayaan alam yang melimpah, salahsatunya di Sungai Serayu yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan hewan serta tumbuhan lainnya. Motif Lumbon, daunt alas yang merupakan tanaman yang juga umum ada di pekarangan rumah masyarakat Banyumas dan biasanya diolah menjadi masakan berupa “buntil”. Masakan ini adalah makanan yang merakyat yang bahannya banyak dengan mudah dijumpai di sekeliling rumah di desa-desa. (Banyumas, 9 April 2014, Iin Susiningsih)

Batik Tulis Jawa, Batik Tulis Solo, Batik Solo, Batik Jogja, Batik Tulis Jogja, contoh Batik Tulis, contoh motif batik, makna motif Batik, arti motif batik

Minggu, 08 Februari 2015

Batik Papringan


Merakan


Udan Liris

Gajah Uling

Taman Buah

Godhong Dolar

Sido Mukti

Pring Petunga

Bulus Angrem

Serayuan

Kembang Coklat

Kembang Sedhompol

Godong Rogol

Pring Kuning Sedapur

Parang Seling

Cucakrowo

Pring Sedapur Coklat

Micky Mouse

Godhongan


Grinting Jae

Kupuan



Hello City Biru

INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI0856-4790-7496 atau Like FP Batik Pringmas

Minggu, 22 Juni 2014

Sekilas Dinamika Industri Batik di Papringan

Riwayat singkat tentang perkembangan batik di Papringan (kami belum menyebutnya sebagai sejarah karena belum cukup data) adalah bermula dari sekian lama sejak jaman kerajaan di jawa, masa penjajahan, hingga kemerdekaan, masyarakat Desa Papringan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas, sebagian besar kaum perempuannya memiliki kegiatan membatik untuk mengisi waktu luangnya dalam menjalankan perannya mengurus rumahtangga dan membantu suami bertani. selain mengisi waktu luang, kegiatan membatik juga sedikit banyak membbantu pendapatan keluarga.
Berpuluh tahun lalu, hingga sekarang para pembatik Papringan hanya berperan sebagai pengobeng (buruh batik) dari para pengusaha batik dari Sokaraja dan berbagai daerah lain. Mereka memola mori, atau mengisi mori yang telah dibatik sebelimnya (selengkapnya bisa dibaca pada proses membatik). mereka menerima upah perlembar kain yang mereka batik. Jerih payah mereka dihargai hanya sampai pada selesainya kain dibatik. tanpa ada penghargaan terhadap karya seni, ataupun harga jual kain batik itu nantinya.
Pada 2010, Desa Papringan menerima salah satu program dari PNPM Mandiri yaitu PLPBK (Penataan Lingkungan dan Pemukiman Berbasis Kelompok) yang salah satu posnya adalah pengembangan batik. Fokus dari pengembangan batik ini adalah untuk menjadikan Papringan sebagai sentra industri batik, meningkatkan kemandirian para pembatik agar mampu berproduksi sampai tuntas menghasilkan kain batik, tidak lagi sebagai buruh batik bagi daerah lain. Dibentuklah sebuah Kelompok Perajin Batik Pringmas yang menghimpun seluruh pembatik yang ada di Desa Papringan.
Berbagai upaya kemitraan telah digalang oleh BKM Pringmas sebagai pelaksana PNPM mandiri untuk menjalin kerjasama mendukung pengembangan batik di Papringan. Meskipun sebelumnya juga telah ada peranserta dari dinas pemerintah, dalam hal ini Disperindagkob Kabupaten Banyumas yang beberapa kali telah memberikan pelatihan dan bantuan peralatan membatik. Tetapi upayalain terus dilakukan guna merealisasikan terwujudnya sentra industri batik yang benar-benar mandiri dan berkelanjutan. Hingga pada akhirnya salahsatu proposal dilirik oleh Bank Indonesia perwakilan Purwokerto.
Pada 2013, Bank Indonesia merangkul Batik Pringmas untuk lebih kuat lagi dan profesionan dengan mengadakan serangkaian kegiatan bertemakan Penguatan dan Pelatihan UMKM Kelompok Batik Pring Mas. Perajin batik sejumlah 30 orang yang merupakan perwakilan dari masing-masing RW di Desa Papringan s.elama Juni 2013 mengikuti kegiatan tersebut. Kami dilatih dari mulai manajemen organisasi, kewirausahaan, administrasi keuangan, design motif, proses produksi, pewarnaan, sampai dengan pemasaran. Narasumber yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut diantaranya dari UNSOED Purwokerto, Pengusaha batik sekaligus guru batik dari Sokaraja, Heru S., pengusaha batik Maos, Tonik S., pengusaha batik dari Purbalingga, Yoga P. Semua sangat membantu kami dalam pengembangan pengetahuan secara ilmu maupun praktek tentang proses membuat kain batik ecara keseluruhan.
Bank Indonesia membekali kami tidak langsung berupa modal dana, tetapi pengetahuan dan keterampilan produksi batik serta peralatan produksi dan bahan baku. Mulai dari bak stainless pencelupan, bokor, ember, timbangan digital, sampai dengan sarung tangan. Juga obat-obat pewarna batik selengkapnya. Masing-masing peserta pelatihan dibekali 2 lembar mori untuk didesain, dipola, untuk kemudian dicelup sebagai sarana praktek produksi.
Pada puncak acara perayaan HUT ke-60 Bank Indonesia yang dirayakan di RRI Purwokerto, Sabtu, 29 Juni 2013, 60 lembar kain batik produksi perdana kami diikutsertakan untuk diperkenalkan. Beberapa diantaranya dilelang kepada hadirin. Dari acara ini Batik Pringmas mulai dikenal masyarakat luas. Dari hasil penjualan dan lelang batik di acara inilah, menjadi modal awal kami merintis usaha dalam satu kelompok perajin batik. Kami belanjakan dana tersebut untuk membeli mori dan malam dan diproduksi lagi menjadi kain batik. Begitu seterusnya.
Pada awal perjalanan usaha kami baru sebatas penyebaran informasi dari mulut ke mulut, dari kenalan ke rekan-rekan. Pesanan demi pesanan mulai berdatangan, terutama awalnya dari lingkungan perbankan. Banyak tamu rekanan yang dibawa oleh pihak Bank Indonesia perwakilan Purwokerto serta liputan dari beberapa media cetak lokal maupun elektronik makin mengenalkan Batik Pringmas kepada masyarakat.
Pada 29 Agustus 2013 kami melakukan study banding ke dua tempat yang merupakan perusahaan batik yang telah terkenal luas baik di dalam maupun luar negeri. Obyek pertama adalah Batik “H” atau yang lebih dikenal sebagai Batik Mruyung Banyumas. Terletak satu kecamatan dengan kami, dan sudah berdiri selama puluhan taun. Beberapa pembatik di Papringan pun ada yang menjadi pengobengnya. Kami melihat secara langsung keseluruhan proses produksi batik, batik tulis, batik cap, batik sablon, serta pengelolaan butiknya. Obyek kedua adalah Batik Rajasamas Maos Cilacap. Keunggulan dari perusahaan batik ini adalah pada pewarnaan dengan bahan pewarna alam, serta jaringan pasarnya yang sudah ke tingkat nasional bahkan internasional karena sering mengikuti pameran ke beberapa negara.
Batik Pringmas selain memproduksi batik juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin melihat proses produksi batik yang dilakukan di galeri RW 1 Desa Papringan. Bagi yang ingin belajar membatik dan proses produksi lain juga terbuka. Pada 17 Desember 2013 sejumlah siswa kelas 1 dan 2 dari SD-IT Bina Insan Mandiri Banyumas mengikuti kelas membatik dibimbing ibu-ibu pembatik dari Batik Pringmas. Ini sebagai salah satu bentuk upaya mengenalkan batik kepada generasi penerus.
Awal 2014 Bank Indonesia memfasilitasi pembangunan gedung sentra Batik Papringan sebagai sarana untuk menampung dan menjual hasil produk batik para pengrajin batik di Papringan. Gedung ini terletak di samping pendopo RW 1 Desa Papringan. Di pinggir jalan desa dan di tepi Sungai Serayu. Suatu letak yang strategis meskipun masih dinilai jauh dari kota.
Melanjutkan tahapan pendampingan, Bank Indonesia mengundang para stakeholder dari Pemda yang dalam hal ini dihadiri oleh beberapa SKPD (Disperindagkop, Dinas Pariwisata, BAPPEDA, Dinas Cipta Karya), kalangan akademisi, SKB, BLH, dan beberapa pengusaha batik di wilayah Banyumas untuk duduk bersama membahas sinergi antar elemen untuk semakin memajukembangkan batik di Banyumas. Pihak Pemda kembali mewacanakan tentang wisata air Sungai Serayu yang memungkinkan mendukung adanya wisata batik di Papringan nantinya. Dalam acara tersebut juga hadir dosen dari Universitas Batik Pekalongan, ahir Widadi yang berbagi pengetahuan tentang sejarah batik di Indonesia serta perjalanan batik sehingga diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada Oktober 2008. Kegiatan ini semakin memberikan semangat kepada kami untuk terus berkarya melihat dukungan yang begitu besar dari tidak hanya Pemdes Papringan tetapi juga Pemkab Banyumas dan para stake holder lainnya.
Awal Maret 2014 tepatnya 5-9 maret 2014 kami diberi kesempatan untuk mengikuti Bank Jateng EXPO di taman kota Andang Pangrenan Purwokerto. Kegiatan pameran selama 5 hari itu cukup untuk semakin mengenalkan produk kami kepada masyarakat. Selain itu kami juga ikutserta dalam rangkaian peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas, menempati salahsatu stan di pendopo kabupaten pada 24 april 2014. Liputan dari berbagai media yang meliput kegiatan tersebut semakin memperluas informasi tentang kami.
Pada 24 Mei 2014 gedung sentra batik Papringan diresmikan oleh Deputy Senior Gubernur Bank Indonesia, Mirza Adityaswara. Acara peresmian ini disaksikan oleh Bupati Banyumas, Acmad Husein dan para kepala kantor perwakilan Bank Indonesia se-Jateng dan DIY. Dalam kesempatan tersebut juga diumumkan para pemenang lomba Desain Batik Banyumasan yang seluruhnya disabet oleh anggota kelompok Pringmas dan warga Papringan untuk kategori batik tulis. Ini semakin menjadikan semangat bagi kami dalam melanjutkan mewujudkan sentra industri batik di desa Papringan.
Pelatihan demi pelatihan masih dilaksanakan untuk warga Desa Papringan masih dalam rangka pendampingan yang dilakukan Bank Indonesia perwakilan Purwokerto. Pekan ketiga Juni dilaksanakan pelatihan bagi para penjahit di SKB Kalibagor. Pelatihan ini diharapkan menambah keterampilan menjahit dan wawasan perkembangan dan variasi produk fesyen, dan mendukung produk turunan batik berupa pakaian batik maupun pernak pernik yang memanfaatkan batik. Pekan keempat juni 2014 dilaksanakan pelatihan batik cap.
Gedung sentra Batik Papringan menampung berbagai macam produk hasil karya masyarakat Desa Papringan, mulai ari batik tulis, batik kombinasi, kain jumputan, batik cap, baju batik dan kerajinan lainnya. Gedung yang dijadikan sebagai showroom ini buka setiap hari dari Senin sampai Minggu mulai pukul 09.00-16.00 WIB, serta kegiatan produksi di galeri dilaksanakan 2 kali seminggu setiap hari Rabu dan Sabtu sehari penuh.
Dengan sudah cukup lengkapnya sarana dan prasarana maupun masih kurangnya fasilitas, kami terus berjuang mewujudkan mimpi kami menjadikan desa Papringan sebagai kawasan sentra industri batik Banyumasan, dalam rangka melestarikan Batik Banyumasan dan tentu saja memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Papringan.