Minggu, 21 Juli 2013

Sejarah dan Perkembangan Batik di Banyumas


Sejarah pembatikan di Indonesia pada umumnya dikemukakan oleh beberapa sumber berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan sesudahnya. Pengembangan batik banyak dilakukan pada masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta. Hal ini berkaitan karena kain batik, dahulu merupakan salah satu budaya dari keluarga raja. Pada awalnya, batik terbatas hanya dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya.[1] Batik kemudian menyebar ke rakyat di daerah sekitar keraton karena anyak para pengikut raja atau abdi yang bertempat tinggal di luar keraton dan mengerjakan batiknya di rumahnya masing-masing

Wilayah Banyumas yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa, tentu tak terlepas dari kaitan dengan kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa., begitu pula dengan masalah pengaruh budayanya. Sejarah mengenai asal-usul batik di Banyumas belum ada literatur yang pasti. Tetapi beberapa sumber mengungkapkan bahwa munculnya budaya batik di Banyumas tidak terlepas dari sejarah dinamika kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Perkembangan batik di Banyumas yang berpusat di daerah Sokaraja dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro setelah selesainya peperangan tahun 1830. mereka kemudian menetap di wilayah Banyumas. Lama-kelamaan budaya membatik ini merambah pada masyarakat di Sokaraja.[1] 

Sedangkan menurut Nian S. Djoemena dalam bukunya Batik dan Mitra, menulis bahwa asal mula batik Banyumas dibawa oleh pengungsi-pengungsi dari daerah Solo ketika di Kerajaan Mataram terjadi perang saudara sekitar tahun 1680.[2] perang saudara ini akibat politik pecah belah Belanda. Pangeran Puger dijatuhkan oleh Amangkurat II dan VOC melarikan diri ke daerah Banyumas. Pengungsi-pengungsi inilah yang diduga menyebarkan budaya batik di Banyumas. 

Dalam buku Katalog Batik Banyumasan disebutkan bahwa pada tahun 1913-1933, Bupati Banyumas, Pangeran Arya Gandasubrata senang membuat desain yang kemudian dibatik istrinya. Kemungkinan dari pakaian keluarga Gandasubrata ini kemudian menyebar ke masyarakat Banyumas.Dari informasi para sesepuh dan penggiat batik Banyumas, disebutkan batik Banyumas berasal dari adanya kademangan-kademangan di daerah Banyumas, disamping karena adanya pengikut Pangeran Diponegoro yang mengungsi di daerah Banyumas.[3]Terkait dengan hubungan antara perkembangan batik dengan adanya kademangan-kademangan di daerah Banyumas, diungkapkan oleh salah satu pengrajin yang juga penggiat batik Banyumas yang tinggal di Desa Sokaraja Lor, Bapak Taifur Anwar,  
” Dari pengamatan saya, dari cerita-cerita orang tua, daerah pembatikan itu pada umumnya berada di sekitar pusat-pusat pemerintahan pada jaman dahulu. Contoh, Jogjakarta, daerah pembatik ada di Kauman, buruhnya ada di Bantul. Lantas Banyumas, pusat pemerintahan di Kota Lama Banyumas, sekitar alun-alun, maka buruh batik ada di sekitar Pakunden, Sudagaran sampai Papringan. Lalu Sokaraja, pusat pemerintahannya itu di Sokaraja Kulon, tapi yang sekarang wilayahnya lebih dekat dengan Kauman, sehingga banyak sekali orang-orang batik di Kauman, dan masih sampai sekarang. Kita lihat Banjarnegara, pusat pemerintahannya dulu di Gumelem, pembatiknya, atau berkembangnya batik ada di Gumelem. Begitu juga daerah lainnya.”

Keterkaitan antara pusat pemerintahan, baik itu keraton, kademangan, maupun kadipaten, adalah karena adanya budaya berbusana batik nyamping (memakai kain batik untuk bawahan pakaian) dari para petinggi, atau para orang-orang yang ada di lingkungan pemerintahan beserta keluarganya. Selanjutnya Bapak Taifur menerangkan,
”...karena orang pemerintahan pada jaman dulu pakainya batik nyamping, sehingga harus punya pembatik. Misal dalam keraton, membatiknya kan nggak bisa sendiri, akhirnya mengambil tenaga dari luar, orang-orang sekitar keraton. ”

Budaya berbusana nyamping menggunakan kain batik ini juga sebagai identitas dari si pemakai, bahwa dia mempunyai jabatan tertentu, atau dari kalangan tertentu.Setelah budaya dan seni membatik ini terbawa keluar dari lingkungan bangsawan, kemudian banyak masyarakat yang juga memakai kain batik untuk pakaian sehari-hari, terutama untuk kaum perempuan. Kain batik yang dipakai rakyat biasa cenderung memiliki motif yang sedikit berbeda dengan yang digunakan oleh kaum bangsawan.Selain sebagai pakaian, kain batik juga digunakan pada upacara-upacara adat, atau ritual yang berkaitan dengan siklus hidup manusia sejak dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Masing-masing acara tersebut menggunakan motif-motif batik tertentu yang mengandung simbolisasi petuah, nasihat, dan harapan dari tujuan acara tersebut.Seiring dengan perkembangan jaman, batik yang semula hanya dipakai untuk nyamping dan upacara-upacara adat, kemudian mulai dikembangkan menjadi batik untuk berbusana secara umum. Hal ini karena semakin jarangnya orang yang memakai batik untuk nyamping. Orang-orang kemudian lebih banyak memakai pakaian seperti sekarang ini, rok atau celana. Sedangkan yang masih nyamping adalah generasi tua yang jumlahnya semakin berkurang dan ini yang menjadi salah satu mengapa batik semakin kurang berkembang.Hal ini diungkapkan oleh Bapak H.Ngisomuddin, seorang pengrajin batik dari Sokaraja Tengah yang ju a selaku sekretaris Koperasi Batik Perbain, ”...batik semakin surut, karena semakin berkurangnya orang yang memakai batik nyamping, pakai jarit (kain batik). kan tinggal mbah-mbah saja yang nyampingan...”Batik di Banyumas mengalami dinamika yang pasang surut. Pada era sekitar tahun 1970, perkembangan batik di Baayumas sempat mengalami kejayaannya. Dalam buku Katalog Batik Banyumasan, saat itu di Banyumas terdapat sekitar 165 pengusaha batik. Jumlah tenaga pembatik (pengobeng) saat itu mencapai sekitar 500-6000 orang. Di samping para pengusaha dan pengobeng, juga ada perantara atau pengepul batik yang membantu pemasaran hasil produksi batik.Setelah era 1970-an, batik di Banyumas bisa dikatakan mengalami kemunduran. Jumlah pengrajin batik menurun drastis hingga tinggal beberapa orang saja. Beberapa sebabnya antara lain munculnya tekstil bermotif batik atau yang biasa disebut dengan istilah batik printing. Batik printing ini tidak melalui proses pembuatan batik yang menggunakan malam, tetapi dengan teknik sablon yang waktu pengerjaannya lebih cepat, dan biayanya lebih murah sehingga harga jualnya pun menjadi lebih murah dibandingkan dengan produk batik tulis atau cap yang menggunakan malam. Produk batik printung ini datang dari luar daerah banyumas, yaitu dari Yogyakarta dan Pekalongan. Masyarakat cenderung memilih produk yang lebih murah, sehingga omset batik klasik dari Banyumas sendiri menurun drastis dan menyebabkan beberapa pengusaha batik menutup usahanya.Faktor lain, seperti yang sudah sedikit disinggung, adalah konsep batik untuk nyamping. Pada waktu itu, di Banyumas belum begitu berkembang konsep batik untuk sandang, dalam arti kain batik tidak hanya dipakai begitu saja seperti dalam memakai nyamping, tetapi bisa dibuat menjadi baju atasan, celana, atau jenis pakaian lain sehingga pemakai produk batik klasik tidak terlalu banyak. Seperti yang dikemukakan Bapak H. Ngisomuddin,
”Batik di Banyumas mati suri salah satunya karena munculnya tekstil bermotif batik, ya batik printing itu. Semakin surut, karena semakin berkurangnya orang yang memakai batik nyamping, pakai jarit (kain batik). kan tinggal mbah-mbah saja yang nyampingan. Dan pada saat itu Banyumas belum mengikuti perkembangan bahwa batik itu tidak hanya untuk nyamping, tapi juga untuk sandang. Jadi ibaratnya daya kreasinya belum berkembang sampai sana.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar